Mengambil batu akik di Baturaja Kabupaten OKU

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Batu akik asal Baturaja, Kabupaten OKU sudah terkenal dan menjadi buruan kolektor meski nilai jualnya terkadang diluar logika dan mengalahkan harga logam mulia dan emas antam bersertifikat. Namun bagaimana sesungguhnya kehidpan para penggali batu tersebut?
Wartawati Sripoku.com Leni Juwita menelusuri hingga ke salah satu lokasi menggalian, tempatnya di Talang Karet Desa Simpang Empat Kecamatan Lengkiti, Kabupaten OKU.
Sengaja memilih Talang Air Karet karena disitulah daerah penghasil bahan batu spritus dan lavender yang kini jadi buruan kolektor berkantong tebal. Untuk menuju ke lokasi tambang kami dipandu oleh tokoh masyarakat setempat, yakni mantan Kades Simpang Empat, Sarwanto (47). Setelah menitipkan kendaraan di rumah kades, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Dari disinilah pikiran mulai terbuka betapa sulitnya mendapatkan bahan batu yang kini sedang digilai semua orang, khususnya lelaki.
Untuk sampai ke lokasi tambang batu akik harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer dengan medan yang cukup berat, terdiri dari lereng dan mendaki serta jalan berlumpur. Setengah dari jarak perjalanan, kaki berhenti karena perut sudah keroncongan minta diisi. Pilihan untuk istirahat salat dan makan berada di pinggir Kali Air Karet yang saat itu sedang pasang.
Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga sampai ke Talang Karet dan langsung di hadapkan dengan kehidupan sesungguhnya dari para penambang batu akik. Puluhan penambang berusia remaja dan dewasa tengah beraktivitas menggali batu. Para penambang yang bertelanjang dada ini dengan ramah menyapa kami. Barangkali mengira yang ada adalah cukong berkantong tebal yang memburu batu.
Namun apa yang dilihat berbeda 180 derajat dengan hiruk pikuk pasar batu akik yang bergelimang rupiah. Para penambang hanya bermodal bekal seadanya dari rumah. Beras kualitas medium dimasak jadi nasi dan tanak dengan daun pisang seadanya. Lauknya pun hanya sambal dan ikan asin yang sekedar cukup untuk mengganjal perut yang keroncongan.
Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mereka bekerja di dalam hutan belantara jauh dari perkampungan. Apabila hujan melanda, pekerja hanya berteduh di bawah tenda dari bahan terpal yang sudah usang.

Fahmi (23), seorang penambang menuturkan, pekerjaan mencari bahan batu akik sangat sulit dan bergantung dengan nasib. Seperti layaknya berjudi, bagi yang hoki kemungkinan menang ada.
Terkadang baru beberapa meter menggali sudah menemukan batu bagus yang bisa dijual dengan harga mahal atau malah sebaliknya. Artinya untuk mendapatkan batu bahan permata ini tidaklah semudah yang kita bayangkan. Dengan menggunakan peralatan sederhana berupa linggis, cangkul, palu serta peralatan tradisional lainnya, penambang menggali lubang berdiameter sekitar 1,5 meter dengan kedalaman berkisar 3-12 meter yang mirip galian sumur.
Dituturkan Fahmi, penggalian dilakukan perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit sambil memeriksa diantara tanah galian apakah ada batu yang bisa dijadikan uang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari, berminggu-mingu bahkan berbulan-bulan untuk mengejar batu permata. Namun tidak semua orang beruntung ada yang sudah menggali dari satu lubang ke lubang lainnya tapi tidak membuahkan hasil.
"Kadang kami sudah menggalai sampai tiga lubang cuma dapat pa dan yah alias payah atau capek saja, Bu," kata Fahmi sambil tersenyum kecut.
Meski mengandalkan keberuntungan, namun mereka tidak punya pilihan lain. Dari perhitungan pekerja, itu masih lebih menjanjikan dibandingkan dengan menyadap karet saat harga anjlok. Walau tidak dapat batu bagus namun masih ada harapan dengan memperoleh batu-batu sayur yang masih bisa dijadikan uang untuk menutupi sewa lahan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Fahmi yang menggali bersama temannya, Joni mengaku mendapatkan lahan dengan sistem sewa dari pemilik lahan setempat. Untuk meringankan biaya penambang akan melakukan aktivitas sistim patungan dan bagi hasil.

Source : Palembang tribunnews